Senin, 09 November 2020

Peranan Orang Tua Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Peserta Didik Guna Mencapai Hasil Belajar Yang Maksimal Di SMA Negeri 1 Ungaran.

 I Luh Aqnez Sylvia

Program Studi Managemen Sains

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia (STIEPARI) Semarang

Email: mamantaka75@gmail.com

 

Abstrak

 

Hasil belajar peserta didik merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melakukan proses belajar mengajar. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan peran orang tua dalam menanamkan disiplin sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan, mengisi check list dan observasi lapangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua sangat berperan dalam menanamkan disiplin. Disiplin diterapkan dengan penuh komitmen, terus menerus sehingga dapat menjadi budaya keluarga. Hambatan penerapan disiplin ditemui oleh orang tua yakni adanya perbedaan cara pandang anak dengan orang tua, namun hal tersebut dapat diselesaikan dengan komunikasi dan  musyawarah. Oleh karenanya untuk meningkatkan disiplin, orang tua perlu bersikap tegas pada anak untuk melaksanakan komitmen berdisiplin khususnya disiplin beragama, belajar, bermain, dan membantu pekerjaan rumah. Adanya komitmen untuk menjalankan aktivitas dengan disiplin, maka hasil belajar dapat diraih.

Kata kunci: disiplin, komitmen, hasil belajar

 

Abstract

 

Student learning outcomes are one indicator of the success of educators in carrying out the teaching and learning process. The purpose of the study was to describe the role of parents in instilling discipline so as to improve student learning outcomes.

This research used descriptive qualitative approach. Data collection was conducted by in-depth interviews with informants, filling out check lists and field observations.

The results of the study showed that parents played a role in instilling discipline. Discipline was implemented with full commitment, so that it could be

a family culture. The obstacles of discipline implementation were the difference point of views between children and parents, but this can be solved by communication and deliberation. Therefore to improve discipline, parents needed to be assertive in children to carry out disciplined commitments, especially religious discipline, study, play, and help with homework. Having a commitment to carry out activities with discipline, learning outcomes can be achieved.

Keyword : discipline, commitment, learning outcomes


PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Sebagaimana telah dijabarkan di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan yang terus melesat, menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan dalam membimbing ataupun mengarahkan peserta didik yang bukan hanya berintelektual tinggi namun juga memiliki perilakuyang bermoral dan berkarakter. Dalam menghadapi kemajuan jaman di era globalisasi, peserta didik harus berani bersaing untuk meraih prestasi belajar yang maksimal. Berkaitan dengan hal tersebut, tentu saja dibutuhkan adanya karakter dan moral yang baik dalam mengikuti proses pembelajaran baik di kelas ataupun di luar sekolah.

Kurikulum 2013 menekankan pengembangan pendidikan karakter bagi peserta didik untuk meningkatkan mutu proses pendidikan serta menghasilkan peserta didik yang berkualitas dan berkarakter. Namun demikian pengembangan pendidikan karakter bukanlah mutlak tugas sekolah sebagai lembaga pendidikan, sebab justru keluarga (orang tua) memiliki peranan yang sangat besar dalam pembentukan karakter peserta didik. Intensitas kebersamaan yang dipenuhi dengan perhatian, kasih sayang serta komunikasi yang baik dalam sebuah keluarga akan membentuk karakter seorang anak.  Disinilah peran dan tanggung jawab orang tua sangat dibutuhkan dalam memberikan pendidikan kedisiplinan demi terbentuknya karakter dan budi pekerti yang baik.

            Lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang secara langsung atau tak langsung berpengaruh terhadap perilaku dalam perkembangan anak didik. Tujuan pendidikan secara universal  dapat dikatakan agar anak manusia tersebut menjadi mandiri, dalam arti bukan saja dapat mencari nafkahnya sendiri, namun juga mengarahkan dirinya berdasarkan keputusannya sendiri untuk mengembangkan  semua kemampuan fisik, mental, sosial, dan emosional yang  dimilikinya, sehingga dapat mengembangkan sesuatu kehidupan yang sehat dan produktif, dengan memiliki kepedulian terhadap orang lain.Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Dalam mendidik, sekolah hanyalah melanjutkan pendidikan yang telah dilakukan orangtua dirumah, berhasil atau tidaknya pendidiakan di sekolah tergantung pada pengaruh pendidikan di rumah. Karena pendidikan keluarga adalah fundamen atas dasar dari pendidikan anak. Selanjutnya, hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan kelanjutan pendidikan baik di sekolah maupun masyarakat.

     Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagaian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota yang lain. Sehubungan dengan ini, disiplin diri sangat diperlukan bagi anak agar ia memiliki budi pekerti yang baik. Bantuan yang diberikan oleh orang tua adalah lingkungan kemanusiawian yang disebut pendidikan disiplin diri. Karena tanpa pendidikan orang akan menghilangkan kesempatan manusia untuk hidup dengan sesamanya.

Salah satu peran orang tua yang sangat berpengaruh pada keberhasilan peserta didik adalah disiplin. Disiplin adalah suatu tata tertib yang memberikan tatanan kehidupan pribadi dan kelompok. Disiplin timbul dari dalam jiwa, karena adanya dorongan untuk menaati tata tertib tersebut. Disiplin sangat diperlukan dalam belajar karena disiplin melahirkan semangat menghargai waktu, bukan menyianyiakan waktu berlalu dalam kehampaan (Djamarah, 2013:67). Tingkat kedisiplinan belajar setiap peserta didik akan berbeda-beda. Peserta didik yang terbiasa dalam disiplin belajar akan mempergunakan waktu sebaik-baiknya di rumah maupun di sekolah sehingga akan menunjukkan kesiapan peserta didik dalam proses pembelajaran di sekolah, sedangkan peserta didik yang tidak disiplin belajar mereka kurang menunjukkan kesiapannya dalam belajar. Mereka akan menunjukkan perilaku yang menyimpang dalam proses pembelajaran seperti tidak mengerjakan PR, membolos, tidak memperhatikan penjelasan guru, melanggar tata tertib sekolah.

Perilaku disiplin tidak akan tumbuh dengan sendirinya, melainkan perlu kesadaran diri, latihan, kebiasaan, dan juga adanya hukuman. Bagi siswa disiplin belajar juga tidak akan tercipta apabila siswa tidak mempunyai kesadaran diri. Siswa akan disiplin dalam belajar apabila siswa sadar akan pentingnya belajar dalam kehidupannya. Siswa yang sudah terbiasa disiplin, sikap dan perbuatan disiplin yang dilakukan bukan lagi dirasakan sebagai suatu beban, melainkan suatu tindakan yang sudah biasa dilakukan setiap hari. Siswa yang sadar akan pentingnya belajar akan menunjukkan perilaku yang memiliki kecenderungan disiplin yang tinggi dalam dirinya, disamping itu juga akan timbul suatu motivasi dalam diri siswa. Mereka menyadari bahwa dengan disiplin belajar akan mempermudah kelancaran di dalam proses pendidikan.

Disiplin sangat penting artinya bagi perkembangan karakter anak untuk memiliki kebiasaan yang baik. Kegiatan membangun karakter bukanlah sebuah  hal yang instan dan mudah, sebab diperlukan adanya proses dan upaya berlatih. Kebiasaan baik yang terus dilakukan akan membentuk karakter seseorang. Kedisiplinan seseorang sangat mempengaruhi hasil yang dicapai dalam kehidupannya. Demikian juga peserta didik yang memiliki kedisiplinan tinggi mampu menghasilkan prestasi belajar yang maksimal dan bersaing di era globalisasi ini.

 

KAJIAN TEORI

Pengertian Orang Tua

Orang tua merupakan orang yang lebih tua atau orang yang dituakan, namun pada umumnya di masyarakat pengertian orang tua  adalah orang yang telah melahirkan kita yaitu ibu dan bapak.  Selain itu orang tua juga pemahaman dari orang  yang telah mengasuh dan membimbing anaknya dengan cara memberikan contoh yang baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Orang tua juga memperkenalkan anaknya ke dalam hal-hal yang terdapat di dunia ini dan menjawab secara jelas tentang sesuatu yang tidak dimengerti oleh anak, maka pengetahuan pertama diterima oleh anak adalah dari orang tuanya karena orang tua adalah pusat kehidupan rohani sang anak dan sebagai pengenal terhadap  dunia luar. Setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya di kemudian hari terpengaruhi oleh pola asuh orang tua.

Menurut Daradjat (2012:35) orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga. Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan.Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.

Kewajiban Dan Peran Orang Tua Dalam Pendidikan

Menurut (Maunah, 2009:92) orang tua merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati, orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

Dengan demikian, faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi anak adalah kehidupan keluarga atau orang tua beserta berbagai aspek, perkembangan anak yang menyangkut perkembangan psikologi dipengaruhi oleh status sosial ekonomi, filsafat hidup keluarga, pola hidup keluarga seperti kedisiplinan, kepedulian terhadap keselamatan dan ketertiban menjalankan ajaran agama, bahwa perkembangan kehidupan seorang anak ditentukan pula oleh faktor keturunan dan lingkungan (Hasbullah, 2013:88).

Berkaitan dengan masalah pendidikan, maka orang tua atau keluarga merupakan tempat untuk meletakkan pondasi dasar pendidikan bagi anak-anaknya, maksudnya pendidikan dilingkungan keluarga merupakan peletakan dasar bagi perkembangan anak untuk selanjutnya, dengan demikian lingkungan yang diciptakan oleh orang tuanyalah yang menentukan masa depannya, oleh karena itu orang tua berkewajiban untuk menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan berkewajiban memberikan didikan dan bimbingan kepada anak-anak, sebab merekalah yang mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak (Dalyono, 2010:59).

Peran dan Fungsi Orang Tua Dalam Keluarga

Orang tua mempunyai peran keluarga. Menurut Yusuf (2012:37-42) peran orang tua dalam keluarga adalah sebagai berikut.

a.       Fungsi Biologis

Dipandang sebagai pranata sosial yang memberikan kebutuhan dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi : (1) pangan,sandang dan papan, (2) hubungan seksual suami-istri, (3) reproduksi/penggembangan keturunan.

b.      Fungsi Ekonomis

Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahkan anggota keluarganya (istri dan anak). Seseorang (suami) tidak dibebani (dalam memberikan nafkah), melainkan menurut kadar kesanggupannya.

c.       Fungsi Pendidikan (Edukatif)

Membawa anak-anak pada kedewasaan, kemandirian, menyangkut penanaman, pembimbingan, atau pembiasaan nilai-nilai agama, budaya, dan keterampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak.

d.      Fungsi Sosiologis

Mempersiapkan anak-anak menjadi  manusia sosial yang dapat mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat,seperti nilai disiplin, bekerja sama, toleran, menghargai pendapat, tanggung jawab, dll.

e.       Fungsi Perlindungan (Protektif)

Melindungi anak-anak dari macam-macam marabahaya dan pengaruh buruk dari luar maupun dalam, dan melindungi anak-anak dari ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidaknyamanan (fisik psikologis) bagi anggotanya.

f.       Fungsi Rekreatif

Menciptakan iklim rumah tangga yang hangat, ramah, bebas, santai, damai, menyenangkan keceriaan,agar semua anggota keluarga betah tinggal di rumah.

g.      Fungsi Agama (Religius)

Keluarga berfungsi sebagai penanaman nilai-nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar.

Dengan demikian jelaslah bahwa kedudukan orang tua dalam keluarga jika dilihat dari fungsi orang tua itu sendiri mencakup berbagai aspek sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup anak. Sehingga semua aspek yang telah disebutkan di atas tidaklah dapat dipisah-pisahkan, karena semuanya saling melengkapi.

Disiplin Belajar

Disiplin adalah merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai suatu tujuan, baik itu tujuan organisasi maupun tujuan individu. Dengan kata lain disiplin merupakan salah satu aspek dari kehidupan manusia, selama manusia tersebut mempunyai tujuan yang hendak dicapai.Secara tradisional disiplin dimaksudkan sebagai penertiban tingkah laku anak oleh kekuatan yang berasal dari luar diri anak, sehingga seolah-olah kurang memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan daya dan kemampuan yang ada padanya.

Dengan demikian disiplin yang ketat, kemungkinan besar akan menimbulkan pertentangan antara usaha penyesuaian diri dengan lingkungan dankeinginan untuk mendapatkan kebebasan dalam bertindak. Apabila dikaji lebih mendalam, disiplin bukan hanya dibentuk oleh kekuatan dari luar tetapi juga dorongan dari dalam diri untuk mengendalikan diri menyesuaikan dengan ketentuan yang ada. Untuk memperjelas pengertian disiplin ini dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli, Arikunto (2013:114) menyebutkan bahwa “Disiplin adalah kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada hatinya”.

Disiplin belajar merupakan suatu kondisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan seorang Siswa dalam proses belajarnya. Disiplin merupakan titik pusat dalam pendidikan, tanpa disiplin tidak akan ada kesepakatan antara Guru dan Siswa yang mengakibatkan prestasi yang dicapai kurang optimal terutama dalam belajar.

Menurut Singgih (2010:28) kedisiplinan adalah suatu kondisi tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan, dan ketertiban.  Hal ini tercermin dari 4 disiplin yang perlu diterapkan di lingkungan keluarga sebagai berikut.

a.       Disiplin belajar Anak pada usai sekolah, tidak hanya belajar di sekolah. Ketika anak berada di lingkungan keluarga, anak juga mempunyai kewajiban untuk belajar. 

b.      Disiplin bermain.  Bermain sangat penting artinya bagi anak usai sekolah. Namun demikian bermain itu hanya sekedar menghilangkan kejenuhan oleh aktivitas sehari-hari. Orangtua perlu mengatur azas bermain seperti kapan waktu bermain, dengan siapa kapan bermain dan bagaimana bentuk permainannya. 

c.       Disiplin ibadah.  Ibadah wajib yang harus lakukan anak adalah shalat 5 waktu sehari semalam. Aturan beribadah ini adalah mengerjakan shalat di awal waktu. Jangan melalaikan shalat dan hal lain yang mengakibatkan shalat terlupakan. Ini harus dipantau oleh orang tua terutama ketika anak berada di rumah. 

d.      Disiplin terhadap azas selama di rumah. Waktu anak lebih banyak berada di rumah ketimbang di sekolah. Selama berada di rumah, anak melakukan banyak aktivitas, mulai dari bangun pagi. Kemudian aktivitas sebelum berangkat sekolah, sepulang sekolah dan aktivitas malam hari sebelum tidur. 

Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai melalui proses perubahan perilaku yang dapat dinyatakan dalam   bentuk penguasaan penggunaan dalam penilaian tentang pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan. Juga dapat diartikan sebagai penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, latihannya yang ditunjukkan dengan nilai tes. Dengan penilaian itu dapat diperoleh gambaran nyata tentang keberhasilan belajar dalam bentuk  penentuan-penentuan indeks prestasi (Hamalik, 2013:153). 

Nasution, (2010:61) menyatakan hasil belajar siswa dirumuskan sebagai tujuan instruksional umum (TIU) yang dinyatakan dalam bentuk yang lebih spesifik dan merupakan komponen dari tujuan umum mata kuliah atau bidang studi.

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang di peroleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan tingkah laku tersebut tergantung pada apa yang di pelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari tentang pengetahuan konsep, maka perubahan perilaku yang di dapat berupa penguasaan konsep.Dalam pembelajaran, perubahan perilaku yang harus di capai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar di rumuskan dalam tujuan pembelajaran (Anni, 2009:5).

Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang di capai siswa dengan kriteria tertentu.hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang di nilai adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku (Sudjana, 2009:3).

 

Perubahan Sosial  Dan Indikatornya

Setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dapat berupa pengaruhnya terbatas maupun luas, perubahan yang lambat dan ada perubahan yang berjalan dengan cepat. Perubahan dapat mengenai nilai dan norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Perubahan- perubahan yang terjadi pada masyarakat merupakan gejala yang normal. Pengaruhnya bisa menjalar dengan cepat ke bagian-bagian dunia lain berkat adanya komunikasi modern (Soekanto, 2009:259).

Menurut Sztompka (2008:3) perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam lingkup sosial karena adanya perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu yang berlainan.

 

DESAIN PENELITIAN

Desain penelitian adalah kerangka kerja atau rencana untuk melakukan studi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam mengumpulkan dan menganalisis data.

Di sini, peneliti mengeksplor fenomena proses tentang hal-hal sebagai berikut.

1)        Peranan orang tua dalam menanamkan nilai kedisiplinan bagi anaknya untuk menjadi peserta didik yang mampu meraih prestasi belajar yang maksimal di SMA N 1 Ungaran

2)        Hambatan-hambatan apasaja yang ditemui oleh orangtua dalam menanamkan nilai kedisiplinan bagi anaknya untuk menjadi peserta didik yang mampu meraih prestasi belajar yang maksimal di SMA N 1 Ungaran.

3)        Upaya apa yang dapat dilakukan orang tua untuk meningkatkan kedisiplinansehingga anaknya dapat menjadi peserta didik yang  mampu meraih  prestasibelajar yang maksimal di SMA N 1 Ungaran

4)        Faktor-faktor apa sajakah yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil belajar yang maksimal bagi peserta didik di SMA N 1 Ungaran.

Penelitian ini juga bersifat induktif dan hasilnya lebih menekankan makna.

 

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

            Data haruslah lengkap. Dengan kata lain peneliti berusaha melakukan pengamatan tentang proses belajar mengajar sejarah yang dilakukan oleh guru dan siswa yang berkompeten untuk menjawab semua pernyataan yang diajukan peneliti, untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode yaitu :

1.    Observasi langsung.

Observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi langsung di SMA N 1 Ungaran dengan menekankan fokus dari observasi terlebih dahulu yaitu keadaan fisik di SMA N 1 Ungaran. Berkaitan dengan observasi ini, peneliti telah menetapkan aspek-aspek tingkah laku yang hendak diobservasi yang kemudian peneliti rinci dalam bentuk pedoman agar lebih memudahkan peneliti dalam pengisian observasi.

2.    Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewe) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2012:186)

Wawancara dilakukan kepada informan untuk memberikan keterangan-keterangan tentang persoalan dan dapat membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini tidak menutup kemungkinan bahwa dalam wawancara ini timbul masalah-masalah seperti ingatan responden yang tidak sempurna, analisis responden yang tidak cermat dan sebagainya.

3.    Dokumentasi.

Dokumen ialah setiap bahan tertulis atau film lain dari record yang tidak dipersiapkan karena permintaan seorang penyidik. (Moleong 2012:216), metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya  yang didapat dari observasi langsung ke objek penelitian yaitu SMA Negeri 1 Ungaran. Dokumentasi digunakan sebagai bukti kegiatan mengumpulkan data.

VALIDASI DATA

Keobjektifisan data tidak dapat dilepaskan dari penelitian kualitatif  karena terkait dengan derajat kepercayaan dari hasil penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian dikatakan valid dan reliabel apabila dilaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat dan menggunakan teknik yang tepat. Peneliti menggunakan teknik triangulasi guna memeriksa keabsahan data dalam penelitian ini. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keobjetifisan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. (,2012:330) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyelidikan dan teori dari keempat Triangulasi ini yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik triangulasi sumber.

Alasan peneliti memilih menggunakan triangulasi metode yaitu menggali data yang sama dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda, Hal ini dilakukan dengan menggali data berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini. Melalui cara ini didapatkan sumber data yang baik, kemudian data tersebut dikembangkan dan menyimpan data base agar sewaktu-waktu dapat ditelusuri kembali bila dikehendaki adanya verifikasi untuk kesempurnaan.

TEKNIK ANALISIS

Analisis data kualitatif menurut (Moleong,2012:333) yang dikutip dari pendapat Bogdan dan Biklen adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Teknik analisis yang digunakan oleh peneliti adalah Analisis Interaksi/Interactive analysis model dimana komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, setelah data terkumpul maka tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, penarikan simpulan atau verifikasi) berinteraksi Menurut Miles dan Huberman (2014: 159), dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan analisis kedua yakni model analisis interaksi atau interactif analysis models dengan langkah-langkah yang tempuh adalah sebagai berikut :

3.6.1   Pengumpulan data Penelitian yaitu mencari data melalui wawancara, observasi langsung dan  dokumentasi di SMA Negeri 1 Ungaran, kemudian melaksanakan pencatatan data

3.6.2   Reduksi data Setelah data tersebut terkumpul dan tercatat semua, selanjutnya direduksi yaitu menggolongkan, mengartikan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan sehingga nantinya mudah dilakukan penarikan kesimpulan, jika yang diperoleh kurang lengkap maka peneliti mencari kembali data yang diperlukan dilapangan

P            enyajian data data yang telah direduksi tersebut merupakan sekumpulan informasi yang kemudian disusun atau diajukan sehingga memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan

   Penarikan kesimpulan atau verifikasi setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi, dalam penarikan kesimpulan atau verifkasi ini, didasarkan pada reduksi data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian ini.

 

Peran Orang Tua Dalam Menanamkan Kedisiplinan Bagi Anak untuk menjadi peserta didik yang mampu meraih prestasi belajar yang maksimal di SMA N 1 Ungaran

 

            Penulis telah melakukan penelitian kepada responden melalui pemilihan sampel bertujuan untuk meneliti peran orang tua terhadap hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa orang tua dapat melakukan peran dan ada pula orang tua yang tidak dapat menjalankan perannya terhadap anak. Sebagaimana dikatakan oleh Daradjat (2012:35) orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga.

            Dengan demikian, maka orang tua pada key informan 1 dan key informan 2 telah menjalankan peran sebagai pendidik utama karena orang tua menjalankan kewajiban mendidik, membimbing dan mengarahkan anak. Orang tua juga menerapkan disiplin dan komitmen sejak anak-anak kecil sehingga komitmen dan disiplin sudah merupakan pembiasaan.

            Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.

            Disisi lain, key informan 3 dan key informan 4 tidak dapat menjalankan perannya sebagai orang tua sebagai pendidik pertama anak karena anak cenderung diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan pilihan hidup. Orang tua hanya memberikan uang dan barang, namun orang tua tidak pernah mendidik anak. Jika hal tersebut dibiarkan, maka orang tua gagal menjalankan perannya karena orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik anak.

Hambatan Yang Ditemui Oleh Orang Tua Dalam Menanamkan Nilai Kedisiplinan Bagi Anaknya Untuk Menjadi Peserta Didik Yang Mampu Meraih Prestasi Belajar Yang Maksimal Di SMA N 1 Ungaran

 

Penanaman disiplin tentu tidak mudah, orang tua pasti menemukan banyak kendala atau hambatan dalam menanamkan kedisiplinan. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Key Informan 1 dan Key Informan 2 yang telah berupaya menanamkan kedisiplinan sejak kecil, bahwa penanaman disiplin pada anak menemui hambatan sebagai berikut.

a.       Anak sering memprotes perilaku disiplin orang tua yang sangat tidak disukai anak.

     Pada awal penanaman disiplin, anak sering memprotes orang tua yang sedang berupaya untuk menanamkan disiplin pada anak. Orang tua memberikan berbagai aturan disiplin dalam keluarga yakni disiplin beribadah yang tidak boleh ditawar oleh orang tua karena beribadah adalah kewajiban manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan YME. Disiplin yang lain adalah disiplin belajar yang sudah diwajibkan orang tua untuk dilakukan oleh anak dan disiplin bermain serta disiplin dalam menjalankan tugas rumah tangga lain untuk membantu ibu di rumah. Penanaman disiplin tersebut membutuhkan komitmen, sehingga kadang terjadi pertentangan batin antara ingin memanjakan anak atau ingin bersikap tegas pada anak untuk menjalankan disiplin, namun hal tersebut dapat dilalui oleh Key Informan 1 dan 2 dengan baik.

b.      Anak sering membandingkan budaya disiplin keluarga dengan keluarga lain yang lebih memanjakan anak.

     Pada awal penanaman disiplin, anak sering berontak dengan cara membandingkan antara budaya disiplin di rumah dengan budaya keluarga lain, khususnya ketika anak telah mengetahui di keluarga lain yang tidak berdisiplin akan lebih menyenangkan bagi anak karena anak diberikan kebebasan untuk menjalankan kegiatan sehari-hari. Ketika menghadapi masalah demikian, maka kesabaran orang tua sangat diuji karena orang tua harus memberikan penjelasan berkali-kali dengan sabar, penuh komitmen dan tetap menyemangati anak agar berdisiplin.

 

Upaya Yang Dapat Dilakukan Orang Tua Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Sehingga Anaknya Dapat Menjadi Peserta Didik Yang  Mampu Meraih  Prestasi Belajar Yang Maksimal di SMA N 1 Ungaran

            Peningkatan disiplin membutuhkan usaha dan upaya maksimal orang tua. Orang tua tentu berusaha keras untuk mewujudkan perilaku disiplin pada anak agar dapat membuahkan hasil yakni berupa prestasi anak. Adapun usaha yang dilakukan orang tua pada penerapan disiplin adalah sebagai berikut.

a.        Orang tua menerapkan aturan dalam keluarga, yang menjadi komitmen seluruh anggota keluarga. Dengan demikian, maka aturan dalam keluarga tersebut digunakan sebagai hukum yang berlaku pada keluarga.

b.      Penerapan aturan tidak akan berjalan jika tidak ada hukuman pada anggota keluarga yang melanggar aturan tersebut.

            Hukuman tersebut dilakukan untuk menyadarkan kembali perilaku anak yang menyimpang, supaya tidak diulang kembali oleh anak.

c.          Konsistensi pelaksanaan disiplin juga dilakukan orang tua sebagai upaya untuk meningkatkan disiplin. Kosistensi ini yang dipandang berat oleh Key Informan 1 dan 2 karena kadang orang tua merasa kasihan pada anak yang harus tetap menjalankan kewajibannya. Tetapi walau terdapat pertentangan batin, orang tua tetap menjalankan konsistensi berdisiplin tersebut.

            Uraian upaya penanaman disiplin yang telah dilakukan oleh Key Informan 1 dan 2 sesuai dengan pendapat Hurlock dalam Nazir (2010:125-128) bahwa penanaman disiplin membutuhkan peraturan, hukuman, dan konsistensi untuk menanamkan kedisiplinan pada anak. Penegakan disiplin yang kurang komitmen untuk menjalankan, maka upaya penanaman disiplin tidak akan berhasil. Pada pengalaman upaya penanaman disiplin pada Key Informan 1 dan 2 tidak melakukan penghargaan sebagaimana telah diungkapkan oleh Hurlock, karena orang tua berpendapat bahwa melakukan disiplin adalah kewajiban, sehingga tidak diperlukan penghargaan. Dengan demikian, walau anak melakukan seluruh kegiatan dengan disiplin, anak tidak pernah mengharapkan penghargaan apapun karena sudah menyadari sebagai bentuk kewajiban.

 

Faktor-faktor yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil belajar yang maksimal bagi peserta didik di SMA N 1 Ungaran

            Hasil belajar merupakan hasil dari proses pembelajaran peserta didik di rumah dan di sekolah. Hasil belajar tidak dapat diperoleh dari sekolah saja, tetapi diawali dari pendidikan keluarga. Hal ini sebagaimana pemerintah menambahkan pendidikan karakter pada sekolah yakni untuk menopang kebutuhan prestasi peserta didik yang tidak hanya pandai tetapi juga mempunyai nilai-nilai moral yang baik.

            Hasil belajar yang optimal dapat dicapai dengan dipengaruhi beberapa faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Menurut Syah (2013: 129), Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa secara global terbagi kedalam tiga macam yaitu sebagai berikut.

a.         Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa

     Pada factor internal, factor dari dalam diri peserta didik sangat menentukan keberhasilan peserta didik. Factor internal tidak dapat tumbuh dengan sendirinya, namun melalui proses yang tidak lama yang diawali dari pendidikan orang tua. Kondisi jasmani dan rohani peserta didik diawali dengan pendidikan orang tua.

     Hal tersebut sebagaimana dilakukan oleh orang tua pada key informan 1 dan key informan 2, orang tua mendidik anak sejak usia dini mulai dari pembiasaan hal yang sederhana. Keterbatasan waktu yang dimiliki oleh ibu dari key informan 1 tidak menghalangi dilakukannya kewajiban untuk memberikan pendidikan pada anak. Pondasi agama sejak anak berusia dini selalu ditanamkan orang tua kepada anak baik pada key informan 1 maupun key informan 2. Orang tua berpendapat bahwa agama merupakan pedoman hidup yang dapat mengarahkan anak pada hal yang baik, perilaku baik dan pikiran baik.

b.        Faktor eksternal (faktor dari luar), yakni kondisi lingkungan sekitar siswa dan

     Faktor eksternal merupakan factor yang dipengaruhi dari luar. Pada konteks penelitian ini, key informan 1 dan key informan 2 faktor luar selalu disaring oleh orang tua. Orang tua memberikan proteksi pada anak mengenai atas segala hal. Orang tua juga ikut berinteraksi dengan teman anak sehingga orang tua dapat menyaring informasi dan perilaku buruk yang tidak sesuai dengn perkembangan anak. Orang tua juga mencari cara agar dapat mengakses informasi dari media sosial yang dimiliki anak dengan meminta password pada anak sehingga orang tua dapat mengetahui sejauh mana pergaulan anak.

 

KESIMPULAN

1.        Peran orang tua sangat penting untuk meraih prestasi belajar peserta didik, karena pendidikan orang tua merupakan pendidikan awal atau sebagai pondasi dalam tumbuh kembangnya anak. Informan 1 dan informan 2 telah menjalankan peran dengan baik, yakni dengan menanamkan disiplin dan komitmen dengan konsisten; sedangkan informan 3 dan informan 4 tidak pernah menanamkan disiplin dan komitmen sehingga peserta didik menjadi pribadi yang tidak disiplin, cenderung menunda pekerjaan, melanggar aturan bahkan melakukan perbuatan kriminal.

2.        Hambatan dalam penanaman disiplin adalah pengaruh luar dan protes anak karena memiliki cara / sudut pandang yang berbeda. Namun hal ini dapat diselesaikan dengan adanya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak sehingga ada pemahamn yang dapat diterima oleh sang anak.

3.        Upaya yang dilakukan orang tua adalah dengan pembiasaan sejak dini dalam hal penanaman disiplin dan memegang komitmen sehingga menjadi kebiasaan atau gaya hidup peserta didik untuk menghantar mereka menuju pada pencapaian hasil belajar yang maksimal.

4.        Faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar  peserta didik di SMA N 1 Ungaran adalah disiplin, komitmen tinggi, keteladanan, hukuman jika melanggar dan penghargaan

SARAN

1.  Orang tua yang belum menjalankan perannya dengan benar segera lakukan perubahan, sehingga anak juga dapat menjalankan perannya sebagai anak yang baik dan sebagai peserta didik yang mampu mencapai hasil belajar yang maksimal demi masa depan mereka.

2.    Dalam kehidupan keluarga harus terbangun adanya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak sehingga mampu memperoleh solusi yang terbaik dalam menyelesaikan hambatan atajupun perbedaan pendapat dan pola pikir untuk meningkatkan kedisiplinan.

3.  Komitmen dan kedisiplinan sebaiknya ditanamkan sejak usia dini, sebab pembentukan karakter yang tepat bukanlah saat anak menjadi remaja atau dewasa melainkan sejak masih kecil. Komitmen dan kedisiplinan yang sudah menjadi habit / kebiasaan akan menghantar mereka  pada hari depan yang penuh kesuksesan.

4.   Pencapaian hasil belajar yang maksimal sangat membutuhkan pemantauan dan kerjasama dari orang tua. Oleh sebab itu sebaiknya orang tua dapat membangun komunikasi yang baik dengan anak dan lingkungannya. serta memiliki hubungan yang sinergis dengan pihak sekolah.

Riset Mendatang

 

            Dalam penelitian ini hanya membatasi masalah pada variable pengaruh internal dan tidak menggunakan variable pengaruh luar yang juga dapat mempengaruhi hasil belajar. Pengaruh faktor eksternal dapat menjadi potensi untuk dampak positif dan negatif terhadap hasil belajar peserta didik.

            Peneliti mengharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan pada riset mendatang oleh peneliti lain dengan menyoroti faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Anas Sudijono.(2012). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 

Anni, Catharina Tri. 2009. Psikologi Belajar. Semarang : UNNES

 

Afifuddin. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia.

 

Arifin, Zainal.2012.Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta Rineka Cipta.

 

Bambang Sumantri, Pengaruh disiplin belajar terhadap prestasi belajar siswakelas xi smk pgri 4 ngawi tahun pelajaran 2009/2010,Jurnal Media Prestasi Vol.. VI No. 3 Edisi Desember 2010

 

Binti  Maunah, 2009. Ilmu Pendidikan,  (Yogyakarta : Teras)

 

Dalyono, 2010. Psikologi Pendidikan (Jakarta : PT. Rineka Cipta,)

 

Daradjat, Zakiah. 2012. Ilmu Pendidikan Islam, Cetakan X. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Djamarah & Zain. 2013. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Fadlillah, Muhammad. 2012. Desain Pembelajaran Paud. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

 

Halasan Simanullang. 2014.Peran Lingkungan Keluarga Dalam Meningkatkan Prestasi BelajarSiswa, Jurnal Penelitian Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

 

Hamalik, Oemar. 2013. Proses Belajar Mengajar.(Jakarta : PT.Bumi Aksara)

 

Hamdani, 2012, Bimbingan dan Penyuluhan, Pustaka Setia, Bandung.

 

Hasbullah, 2013. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada)

 

H.M Nazir Karim. 2010. Peluang dan Tantangan. Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau: Pekanbaru

 

M. Ngalim Purwanto, 2009, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

 

Miles,M.B, Huberman,A.M, dan Saldana,J. 2014. Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook, Edition 3. USA: Sage Publications. Terjemahan Tjetjep Rohindi Rohidi, UI-Press

 

Moleong, Lexy. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung :Remaja Rosda Karya.

 

Munirwan Umar, Peranan Orang Tua Dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak, JurnalPenelitian Prodi Bimbingan Konseling FTK UIN Ar-Raniry 2015.

 

Nana SyaodihSukmadinata, 2009. LandasanPsikologi Proses Pendidikan, PT.RemajaRosdakarya, Bandung.

 

Nasution.2010. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Prasetyawati, Arsita Eka. 2011. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta.

 

Sardiman, 2014,Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada)

 

Shochib, M. 2018. Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Sudjana, 2009.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosda Karya.

 

Sugiyono,2008.Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta.

Sugiyono, 2013. MetodePenelitianKuantitatifKualitatifdan R & D, Bandung: Alfabeta.

 

Sumadi Suryabrata, 2011.Psikologi Pendidikan. Raja Grafindo Persada: Jakarta

 

Sztompka, Piotr. 2008. Sosiologi        Perubahan Sosial. Jakarta : Prenada. 

 

Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Penidikan.  Cet.ke-18. Hal. 171.Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Cetakan ke XII.Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

Zariah Mahmud, dkk. 2010. Peluang dan Tantangan. Pekanbaru :  Yayasan Pustaka Riau

Blog Pembelajaran PAK SMA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar